"Menulislah Jika Kau Tidak Ingin Terhapuskan Dalam Arus Sejarah Umat Manusia"

Minggu, 15 Juli 2012

TRADISI KLIWONAN PADA MAKAM SUNAN KALIJAGA DEMAK

Salah satu Wali Sanga yang berperan dalam persebaran agama Islam di Pulau Jawa adalah Raden Syahid atau yang lebih dikenal dengan Sunan Kalijaga. Dalam riwayatnya Sunan Kalijaga merupakan putera Tumenggung Wilatikta seorang adipati Tuban. Masa muda Sunan Kalijaga merupakan masa-masa semu sehingga pada suatu hari dirinya menemukan Sunan Bonang dalam pengembarannya.
Disamping sebagai seseorang yang berperan sebagai penyebar ajaran Islam, oleh masyarakat pada umumnya Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang dianggap oleh masyarakat memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri apabila dibandingkan dengan orang biasa pada umumnya. Menurut berbagai sumber, Sunan Kalijaga hidup lebih dari seabad dan dirinya mengalami hidup dalam tiga dinasti kerajaan yaitu Majapahit, Demak, dan Pajang. selain itu dirinya juga berkiprah dan berpengaruh terhadap kehidupan tiga dinasti tersebut.

Akhir hayat Sunan Kalijaga dihabiskan di wilayah Demak yang bernama Kadilangu. Di Kadilangu Demak itulah jasad Sunan Kalijaga dimakamkan. Sebagai seseorang yang berpengaruh di masa hidupnya, sudah pasti hingga akhir hayatnya pengaruh tersebut tidak akan hilang begitu saja dalam kehidupan masyarakat. Sunan Kalijaga merupakan salah seorang wali pelopor yang mengajarkan ajaran agama Islam dengan menggunakan pendekatan akomodatif yakni menyisipkan ajaran Islam ke dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat setempat. Sebagaimana diketahui bahwa sebelum kedatangan Islam di Nusantara, masyarakat telah mengenal sistem kepercayaan Hindhu/ Buddha, dan jauh sebelum kedatangan sistem kepercayaan Hindhu/ Buddha datang ke Nusantara, masyarakat lokal telah mengenal sistem kepercayaan yang sudah dijalankan dalam kehidupan sehari-harinya yaitu animisme dan dinamisme. Dengan demikian, maka terjadilah suatu kontinuitas sistem kepercayaan karena setiap sistem kepercayaan asing yang masuk ke dalam Nusantara tidak menghilangkan sepenuhnya sistem kepercayaan yang telah berlaku dalam masyarakat sebelumnya. Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang dikenal sebagai pengusung tradisi lokal yang dikemas dalam nafas Islami. Dalam Mengajarkan agama Islam, Sunan Kalijaga lebih memilih menggunakan saluran-saluran yang sudah ada pada masyarakat. Sunan Kalijaga menggunakan media-media yang sekiranya mudah dimengerti dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Dalam melaksanakan ajaran agama Islam, Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang menjalankan ritual-ritual yang sekiranya masih bernafaskan tradisi lokal, sehingga masyarakat yang pada masa dahulu mengikuti ajaran Islam melalui Sunan Kalijaga sudah dapat dipastikan juga mengikuti ritual-ritual yang dijalankan oleh Sunan Kalijaga tersebut.
Salah satu tradisi yang masih berjalan sampai sekarang adalah ziarah kubur. Secara awam, ziarah kubur merupakan kegiatan mengunjungi tempat persemayaman terakhir seseorang yang didalam aktivitiasnya terdapat ritual-ritual tertentu. Dewasa ini makam Sunan Kalijaga merupakan tempat yang ramai yang dukunjungi oleh para peziarah. Peziarah yang datang tidak hanya berasal dari penduduk setempat akan tetapi juga dari berbagai wilayah berbagai kota. Ada waktu-waktu tertentu komplek makam Sunan Kalijaga sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah. Di samping bulan Ruwah yakni bulan menjelang Ramadhan, komplek makam Sunan Kalijaga juga ramai dikunjugi oleh peziarah pada waktu malam Jumat Kliwon hingga hari Jumat Kliwon-nya. Istilah Kliwon merupakan salah satu nama pasaran Jawa yang oleh masyarakat diyakini mengandung makna-makna tertentu. Masyarakat setempat menyebut tradisi tersebut sebagai Kliwonan. Secara kasat mata, suasana komplek makam Sunan Kalijaga pada waktu Kliwonan jelas berbeda jika dibandingkan dengan waktu-waktu selain itu. Tampak orang hilir mudik dan silih berganti berdatangan mengunjungi tempat tersebut dengan berbagai maksud dan tujuan. Hal demikian menunujukkan bahwa keramaian di komplek makam Sunan Kalijaga pada waktu Kliwonan jelas jauh melebihi pada hari-hari sebelumnya maupun sesudahnya.
Kliwonan merupakan aktivitas para peziarah yang dilakukan dalam kurun waktu tiga puluh lima hari sekali berdasarkan hari pasarannya. Pemandangan di komplek makam Sunan Kalijaga dapat dipastikan tidak seperi biasanya oleh karena pemadatan jumlah peziarah dari daerah Demak dan sekitarnya. Dalam tradisi Kliwonan, masyarakat yang berziarah di makam Sunan Kalijaga menjalankan berbagai ritual yang sekiranya sudah umum dilaksanakan oleh masyarakat Islam Jawa. Ritual-ritual tersebut oleh masyarakat lebih dikenal dengan dzikir dan tahlil. Antusiasme masyarakat untuk mendatangi makam Sunan Kalijaga pada waktu Kliwonan jauh lebih lebih besar oleh karena kepercayaan mereka bahwa ada makna-makna tertentu yang terkandung dalam waktu-waktu tertentu untuk melakukan aktivitas ziarah kubur di tempat tersebut. Masyarakat percaya bahwa turut serta dalam tradisi Kliwonan akan mendatangkan berkah tersendiri yang akan berguna bagi kehidupan mereka sehari-hari.
Tradisi kliwonan kemungkinan merupakan refleksi tradisi Islam Jawa sebagai wujud sinkretisme budaya yang banyak dianut oleh mayoritas muslim di Indonesia, baik kelompok modernis, tradisionalis, pragmatis; yang secara formal masih menghormati nilai-nilai spiritual, walaupun hakikatnya hanya legitimasi terhadap upaya mengejar materi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar